"This is the best - the way HE save us on HIS ARM. Just believe THIS IS A BEST that we learn to accept."
"Mom and dad rela kehilangan kamu sejenak biar kamu terselamatkan dari itu semua dan menjadi orang yang baik"
"Mungkin disana kamu berpikir kamu dibuang, tapi di saat itu juga orang-orang disini menganggap bahwa kamu diangkat, bukan dibuang"
Hari ini kali pertamanya saya bikin ibu saya nangis. Sangat merasa bersalah, tapi di satu sisi saya telah mengeluarkan apa yang saya pendam selama ini. Jahat memang, sebagai anak itu sama sekali tidak pantas untuk dilakukan. Tapi sungguh, awalnya saya tidak bermaksud untuk menyakiti ibu saya. Sampai pada suatu waktu kaka saya memberikan nasihat kalau apa yang selama ini saya pikirkan itu salah. Benar-benar salah. Penggalan kata-kata yang dicetak miring di atas adalah perkataan kaka saya.
Mungkin tidak banyak yang tahu mengapa saya bisa sampai menetap di Jakarta selama 6 tahun. Begitu pun saya, sampai sekarang saya masih bertanya-tanya apa alasan sebenarnya sehingga saya harus mengikuti kaka saya yang kedua dan dipisahkan dari orang tua serta keluarga saya yang lainnya, sedangkan pada waktu itu umur saya terbilang masih sangat kecil. Sejujurnya saya belum mampu untuk menanggung semua beban -beban terpisah dari orang tua dan harus tinggal mandiri di sana- itu. Hari ini, 7 Juni 2011 setelah selama 10 tahun berlalu saya baru tahu apa yang terjadi saat saya merasa 'dibuang' pada waktu saya dibawa ke Jakarta.
Well, kenapa saya bisa-bisanya berpikir kalau saya dibuang? Saat itu, saya tidak tahu menau tiba-tiba saya di bawa ke Jakarta dan disekolahkan di sana. Saya sedih karena saya tidak punya teman di sana, tidak tahu kehidupan Jakarta seperti apa dan walaupun saya tinggal dengan kaka saya sendiri tapi saya masih menginginkan orang tua saya di sisi saya. Saat itu, setiap malam saya menangis ingin pulang, ingat orang tua, ingat teman-teman. Semua hilang begitu saja dalam sekejap. Saya iri dengan empat kaka saya yang lain yang masih dapat berkumpul dengan orang tua. Itulah yang membuat saya merasa 'dibuang'. Saya bertanya-tanya 'kenapa cuma saya yang dipindah kesini? ini tidak adil sama sekali'
Ternyata di balik itu semua banyak sekali hal yang saya tidak tahu yang telah saya lewatkan selama 6 tahun saya di Jakarta. Tuhan, maafkan saya. Saya telah berpikir yang tidak-tidak dan berprasangka tidak baik terhadap orang tua saya. Selama saya berpikir bahwa saya 'dibuang', mereka disana justru menganggap bahwa saya telah diangkat, diselamatkan dari kekacauan yang terjadi saat itu (saat saya tinggal di Jakarta). Orang tua saya tidak ingin anak yang baru lulus sd ini tercemar dari hal-hal negatif yang ada saat itu, mereka ingin anak ini menjadi orang yang sukses, berkepribadian baik, dan mempunyai masa depan yang cerah.
Alhamdulillah. Itu yang seharusnya saya ucapkan selama ini. Lalu kenapa saya baru tahu sekarang?
Maafkan aku Tuhan atas ketidakpekaanku selama ini sampai aku tidak tahu apa yang telah terjadi saat itu.
Semua yang telah saya jalani, keputusan yang telah dibuat oleh orang tuaku, apa yang mereka berikan selama ini adalah yang terbaik untuk saya dan masa depan saya.
Terimakasih Ibu, Bapak. Maafkan saya, anak yang tidak tahu berterimakasih selama ini.
"Mom and dad rela kehilangan kamu sejenak biar kamu terselamatkan dari itu semua dan menjadi orang yang baik"
"Mungkin disana kamu berpikir kamu dibuang, tapi di saat itu juga orang-orang disini menganggap bahwa kamu diangkat, bukan dibuang"
Hari ini kali pertamanya saya bikin ibu saya nangis. Sangat merasa bersalah, tapi di satu sisi saya telah mengeluarkan apa yang saya pendam selama ini. Jahat memang, sebagai anak itu sama sekali tidak pantas untuk dilakukan. Tapi sungguh, awalnya saya tidak bermaksud untuk menyakiti ibu saya. Sampai pada suatu waktu kaka saya memberikan nasihat kalau apa yang selama ini saya pikirkan itu salah. Benar-benar salah. Penggalan kata-kata yang dicetak miring di atas adalah perkataan kaka saya.
Mungkin tidak banyak yang tahu mengapa saya bisa sampai menetap di Jakarta selama 6 tahun. Begitu pun saya, sampai sekarang saya masih bertanya-tanya apa alasan sebenarnya sehingga saya harus mengikuti kaka saya yang kedua dan dipisahkan dari orang tua serta keluarga saya yang lainnya, sedangkan pada waktu itu umur saya terbilang masih sangat kecil. Sejujurnya saya belum mampu untuk menanggung semua beban -beban terpisah dari orang tua dan harus tinggal mandiri di sana- itu. Hari ini, 7 Juni 2011 setelah selama 10 tahun berlalu saya baru tahu apa yang terjadi saat saya merasa 'dibuang' pada waktu saya dibawa ke Jakarta.
Well, kenapa saya bisa-bisanya berpikir kalau saya dibuang? Saat itu, saya tidak tahu menau tiba-tiba saya di bawa ke Jakarta dan disekolahkan di sana. Saya sedih karena saya tidak punya teman di sana, tidak tahu kehidupan Jakarta seperti apa dan walaupun saya tinggal dengan kaka saya sendiri tapi saya masih menginginkan orang tua saya di sisi saya. Saat itu, setiap malam saya menangis ingin pulang, ingat orang tua, ingat teman-teman. Semua hilang begitu saja dalam sekejap. Saya iri dengan empat kaka saya yang lain yang masih dapat berkumpul dengan orang tua. Itulah yang membuat saya merasa 'dibuang'. Saya bertanya-tanya 'kenapa cuma saya yang dipindah kesini? ini tidak adil sama sekali'
Ternyata di balik itu semua banyak sekali hal yang saya tidak tahu yang telah saya lewatkan selama 6 tahun saya di Jakarta. Tuhan, maafkan saya. Saya telah berpikir yang tidak-tidak dan berprasangka tidak baik terhadap orang tua saya. Selama saya berpikir bahwa saya 'dibuang', mereka disana justru menganggap bahwa saya telah diangkat, diselamatkan dari kekacauan yang terjadi saat itu (saat saya tinggal di Jakarta). Orang tua saya tidak ingin anak yang baru lulus sd ini tercemar dari hal-hal negatif yang ada saat itu, mereka ingin anak ini menjadi orang yang sukses, berkepribadian baik, dan mempunyai masa depan yang cerah.
Alhamdulillah. Itu yang seharusnya saya ucapkan selama ini. Lalu kenapa saya baru tahu sekarang?
Maafkan aku Tuhan atas ketidakpekaanku selama ini sampai aku tidak tahu apa yang telah terjadi saat itu.
Semua yang telah saya jalani, keputusan yang telah dibuat oleh orang tuaku, apa yang mereka berikan selama ini adalah yang terbaik untuk saya dan masa depan saya.
Terimakasih Ibu, Bapak. Maafkan saya, anak yang tidak tahu berterimakasih selama ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar