Jumat, 21 Nov 2014...
Paginya sih seperti biasa, beres-beres kemudian jalan ke rumah kaka saya. Weekend ini saya berencana disamping kontrol dokter, juga mau ngemall dengan tujuan biar banyak jalan jadi gampang lahirannya 😁
Nah.. saya sampai dirumah kaka saya pas abis jumatan, sekitar jam 1 siang. Kontraksi palsu cukup sering sejak jumat pagi itu, sampai pas dirumah kaka saya pun saya masih merasakan kontraksi yang cukup sering. Tapi masih saya anggap kontraksi palsu. Bedanya, kontraksi ini rutin datang tiap sejam sekali. Saya sudah mulai curiga, yang tadinya mau pergi keluar dengan kaka saya terpaksa dibatalkan karena kontraksi ini cukup sering. Akhirnya saya menunggu suami pulang dan minta dijemput di rumah kaka (padahal biasanya jalan). Kebetulan ibu saya sedang dirumah kaka satunya lagi, jadi hanya komunikasi lewat sms dengan saya.
Jam 7 malam suami pulang dan kita pulang ke rumah. Kontraksi semakin sering. Jam 10 malam saya masak tahu dan telor kemudian makan sejenak. Saat makan, saya kontraksi cukup kuat dan mengeluarkan flek darah. Saya panik. Sms ibu. Dan langsung beresin perlengkapan saya dan bayi, kebetulan baru dikasih tas sorenya oleh kaka saya. Akhirnya saya packing ulang, rapi-rapi kemudian tidur.
Ternyata tidak bisa tidur, meringis terus karena kontraksi semakin sering. Suami mah udah ngorok aja. Saya sampe jam 2 meringis-ringis cari posisi yang kira-kira bisa mengurangi sakit. Akhirnya jam 2 pagi saya menyerah, saya minta suami untuk mengantar saya ke klinik bersalin. Tapi suami malah menunda, nanti saja dulu.. saya gregetttt ingin cepat-cepat bertemu dokter dan mengakhiri rasa sakit ini.
Akhirnya sampai jam 3.30 subuh, saya sudah tidak tahan dan suami pun langsung menyiapkan motornya serta tas perlengkapan. Kami meluncur ke klinik dengan membawa dua tas besar. Sesampainya di klinik, ternyata yang jaga adalah seorang bidan yang masih sangat muda. Ia mempersilakan saya masuk dan mengecek interval kontraksi saya serta mengecek pembukaan. Ia bilang "masih pembukaan satu, bu. Kontraksinya pun masih belum kuat. Besok pagi kontrol dokter saja dulu ya bu, karena banyak juga yang sudah pembukaan 1 tapi sudah 3 hari ini belum keluar juga"
Antara gedeg dan pasrah karena kontraksi yang saya rasakan itu sudah sangat hebat, 5 menit sekali!
Akhirnya kita pulang. Di tengah jalan kita menemukan tukang pisang aroma (subuh sudah jualan loh!). Kita berhenti untuk beli, suami saya beli pisang sedangkan saya menunggu di motor. Tiba-tiba ingin muntah, dan saya muntah di situ juga. Entah kenapa. Setelah muntah kontraksinya tambah hebat, sakiiitt sekali, rasanya ingin rebahan tetapi tidak bisa.
Sampai di rumah jam 5 subuh. Saya bilang ke suami "yang aku pengen tidur dulu ya, jangan diganggu" nyatanya...
Saya tidak bisa tidur sama sekali, setiap kali menutup mata kontraksi selalu datang, saya teriak-teriak menahan sakit, menggigit suami, etc karena sudah tidak kuat.
Ibu datang membawa sarapan sekitar jam 6 pagi, tapi tetap saja tidaj ada yang mau masuk ke perut saya, sudah mulai menolak makanan.
Sekitar jam 7 pagi, saya merasa semua kontraksi sudah berpusat di bagian perut bawah dan tiba-tiba saya pengen NGEDEN.
Saya bilang ke suami "yang, aku pengen pup dulu ya sebelum kontrol". Kemudian saya ke kamar mandi nongkrong di kloset. Tapi tak ada yang keluar. Di situ kontraksi terus menyerang dengan membabi buta, dan saya pengen pup terus. Dengar suara air membuat rileks, kontraksi menjadi terasa ga terlalu sakit. Akhirnya saya diam di kamar mandi mungkin bisa sampai 30menit. Saya ingin pup tak ada yg keluar sampai akhirnya saat saya ngeden ada yang pecah kemudian mengalir dari organ intim. Warnanya bening dan lengket, saya panik. Super panik. Meracau tidak sadar. "Ini sebentar lagi, panggil bidannya, aku mau ibuku dateng, aku ga mau kontrol ke dokter" dan bla bla bla saya meracau.
Suami kebingungan, menelepon ibu untuk segera datang atau panggil bidan ke rumah. Aku tanya suami "yang keluar tadi apaaa??" Suami hanya menggelengkan kepala, "bukan apa-apa" dan belakangan ia beritahu saya ternyata yg keluar saat itu adalah gumpalan darah tapi doi tidak cerita karena takut saya panik.
Berlanjut meracau dengan panik dan badan sangat lemas. Saya kembali tidur di kasur dengan posisi miring untuk menahan agar saya tidak ngeden lagi. Karena saya baru tahu ternyata itu bukan pengen pup, tapi sudah waktunya lahiran.
Saya menempelkan kaki saya rapat-rapat dan dengan posisi diam seribu bahasa dan gerakan. Freeze. Karena jika gerak, kontraksi hebat dan selalu ingin ngeden. Makanya saya diam kaku dan menatap kosong. Entah apa yang harus dilakukan. Suami saya sibuk menggunting pakaian saya dan menggantinya dengan pakaian pergi. Untuk siap-siap. Dia menelpon ibu "soraya pengen ibu kesini, dia sudah tidak bisa bergerak"
Tak lama kemudian, ibu datang... "neng gimana sayang, astagfirullah. Kamu kenapa.." ibu ikut panik. Saya masih kaku dengan tatapan kosong, pucat dan keringat bercucuran serta diam seribu bahasa. Sedang menahan sesuatu yang akan keluar. Ternyata setelah itu datanglah bapak, kaka ipar, dan kaka saya. Mereka masuk ke kamar dan melihat saya seperti itu, kemudian saya digotong oleh 4 orang. Saat itu, saya hanya berpikir hidup atau mati. Sudah tak bisa lagi berkata apapun. Sakit.
Saya dimasukkan ke dalam mobil kaka ipar saya dengan posisi dipangku oleh suami dan bapak saya. Posisi yang sama, miring, kaku, kaki rapat dan mata kosong. Saya hanya memandang muka suami saya. Suami saya berkata "sebentar lagi ya" sambil mengecup kening. Saat itu saya merasa suami saya sangat mencintai dan menyayangi saya.
Tak sempat lagi pergi ke klinik, akhirnya saya dibawa ke bidan yang dekat dengan rumah. Saat itu bidannya pun panik. Asistennya bertanya entah apa saya lupa, yang jelas saya jawab "pengen ngeden terus" kemudian dia bilang "ga boleh ngeden dulu bu"
Hehe. Ya gimana udah ga tahan.
Ternyata.. setelah celana saya di buka dan bidan melihat bahwa kepala bayi saya sudah nongol. Akhirnya segera mereka mempersiapkan segalanya. Diruangan hanya ada saya, suami, kaka, ibu bidan dan asisten bidan.
Semuanya berteriak menyuruh saya untuk ngeden. Oke akhirnya saya 3 kali saya ngeden Alhamdulillah bayinya keluar dan nangis. Saat itu saya sangat senang, semua sakit terbayarkan saat denger tangisan anak saya. Terharuuu saya sudah menjadi ibu sekarang.
Nama anak kami Amanda Mauza Karamina Pratistha, lahir pada 22 November 2014 jam 08.45.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar