Kamis, 15 Juli 2010

A little story

"Entah aku harus ikut tertawa atau miris mendengar cerita ini"

26 Juni kemarin kponakanku, riza di khitan. Di hari itu memang banyak kerabat dan saudara yang datang ke rumah. Pagi hari, Ibu sudah sibuk kesana kemari menyiapkan makanan dan persiapan untuk resepsi khitanan yang akan diadakan keesokan harinya. Rumahpun tak pernah sepi pengunjung dari pagi hingga sore.

Di hari itu juga, gerhana bulan sebagian telah terjadi di antara waktu sholat maghrib dan isya. Gema takbir telah berkumandang di seantero dunia *eh? iya ngga? haha. Orang-orang berbondong menuju mesjid untuk melaksananakan sholat gerhana. Kebetulan di depan rumahku persis terdapat mesjid sehingga tidak memerlukan banyak langkah untuk sampai ke dalamnya. Di dalam, aku duduk bersebelahan dengan tanteku, adik dari ayahku. Setelah dholat gerhana selesai, tentunya selalu ada ceramah dari sang ustadz yang memimpin. Namun karena kesalahan teknis pada pengeras suara sehingga suara tidak terdengar sampai barisanku. Karena tidak terdengar sedikitpun akhirnya tanteku mulai bercerita. Berhubung TKP berada di Bandung, jadi pembicaraannya menggunakan basa sunda.

tante : "neng, si pebi mah geura naek kelas teh naek percobaan"
(Neng, si pebi naik kelasnya naik percobaan)
aku : "naek percobaan teh kumaha maksadna?"
(Naik percobaan tuh gimana maksudnya?)
tante : "Kan teu acan tiasa maca, janten dicoba heula, lamun 3 bulan teu acan tiasa wae moal ditaekeun"
(karna belum bisa baca, jadi percobaan dulu, kalau dalam 3 bulan masih belum bisa baca juga, dia ga bakal naik kelas. Balik lagi ke kelas 2)
aku : oh kitu (oh, begitu)

---aku tak tau harus menjawab apa. Sebenarnya sangat sedih aku mendengarnya. Tapi tanteku bercerita sambil tertawa. Aku prihatin.

tante : "pas ditaros hoyong cita-citana naon, jawabna teh hoyong janten pembantu"
(Pas ditanya citanya-citanya mau jadi apa, dia jawab pingin jadi pembantu katanya)
aku : ...

--tertegun aku mendengarnya. Tak bisa berkata-kata.

Bibirnya yang sumringah dengan tawanya telah menghiasi wajah tante. Tapi aku tahu, sejujurnya dia sedih, hanya saja tak ingin memperlihatkannya padaku. Tak ingin dikasihani. Mungkin.

Pebi. Anak dari adik sepupuku. Adik sepupuku memang jauh lebih tua umurnya dariku sehingga ia menikah lebih dulu. Sepengetahuanku, pebi kurang diperhatikan oleh orang tuanya. Entah salah apa dia. Aku benar-benar prihatin dengan keadaannya saat ini. Disaat anak-anak lain memiliki cita-cita setinggi langit, bahkan ia tak berani untuk bercita-cita. Ingin jadi pembantu. Aku yakin ia mempunyai alasan mengapa ia ingin menjadi pembantu. Karena pembantu bukanlah suatu pekerjaan yang buruk. Betapa cepat ia menyerah dengan cita-citanya, ia belum pernah mencoba untuk bercita-cita lebih tinggi yang justru mungkin akan mengantarkannya ke kehidupan yang lebih baik. Dan mungkin dengan tingginya cita-cita yang ia punya ia bisa belajar lebih giat lagi dan bisa lancar membaca layaknya anak-anak lain.

tante : "dia bahkan pernah mengatakan kalau ia ingin keluar dari sekolah"

--tante masih saja tertawa-tawa seolah-olah hal tersebut adalah lawakan. Aku tak tau harus bagaimana, yang jelas aku sangat sedih mendengarnya, tak sanggup untuk tertawa.

Ya tuhan. Kalau saja aku bisa berbuat sesuatu, aku sangat ingin membantunya. Aku ingin membuat dia untuk lebih semangat belajar. Masa kanak-kanak bukan hanya bermain, bagaimanapun harus diimbangi dengan pembelajaran sehingga kelak ia bisa menjadi anak yang bisa membanggakan orang tua dan bisa menggapai cita-cita hidupnya serta hidup lebih bahagia.

Ternyata benar, terkadang kita terlalu jauh berpikir untuk membantu orang lain yang jauh dari jangkauan kita. Padahal di depan mata kita dan di sekitar kita pun masih banyak orang yang membutuhkan, di mana mereka selalu terlupakan, bahkan saudara terdekat kita sekalipun.

Astagfirullahaladzim

Tidak ada komentar: